Hubungi Kami:
SINOPSIS
Ia tidak lahir dari keluarga berada.
Ia tidak memulai karier dari kantor besar.
Bahkan, ia pernah membela perkara dengan perut lapar.
Pengacara yang Pernah Lapar adalah kisah nyata tentang seorang santri pesantren yang memilih jalan hukum bukan karena ambisi, melainkan karena ketaatan kepada kiai. Dari sawah dan pesantren, ia melangkah ke ruang sidang dengan bekal iman, adab, dan keteguhan hati.
Perjalanan itu dipenuhi cibiran, kemiskinan, dan penolakan. Ia memulai praktik hukum dari pinggir kota, mendampingi masyarakat kecil yang sering kali hanya mampu membayar jasanya dengan sayur, beras, atau sekadar doa. Dari keterbatasan itulah ia memahami bahwa keadilan tidak selalu membutuhkan suara yang paling lantang, tetapi hati yang tetap teguh ketika keadaan paling sulit.
Ketika perkara-perkara besar datang—berhadapan dengan kekuasaan, kepentingan, dan sistem yang rumit—ia memilih tetap berdiri tanpa kehilangan nurani. Di tengah ancaman, tekanan, dan rasa takut, doa seorang ibu menjadi kekuatan yang menuntunnya agar tidak pernah menyimpang dari jalan kebenaran.
Buku ini bukan sekadar kisah tentang profesi advokat. Ini adalah perjalanan iman, perjuangan, pengabdian, dan keteguhan seorang santri yang belajar bahwa lapar dapat melahirkan empati, kesederhanaan dapat melahirkan keberanian, dan kejujuran adalah kemenangan yang sesungguhnya.
“Pengacara yang Pernah Lapar” mengajak pembaca merenungkan bahwa kesuksesan bukan hanya tentang seberapa tinggi kita berdiri, tetapi seberapa banyak manfaat yang kita tinggalkan bagi sesama.
Sebab pada akhirnya, menjadi berguna jauh lebih mulia daripada sekadar terlihat berhasil.
Dapatkan Bukunya segera !!